Thursday, December 27, 2012

[INDONESIA-Geographic] Gunung Gede-Pangrango

 

Gunung Gede-Pangrango
Koran Jakarta, 11 November 2012
 
Gunung Gede-Pangrango
IST

Koran Jakarta - Istana presiden di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, hanya berjarak sekitar 8 km dari kawah Gunung Gede. Ribuan vila mewah semakin menjamur mendekat ke pusat kawah tersebut. Bisa dibayangkan jika awan panas menyembur; semua keindahan, kemewahan, dan kekokohan tersebut akan lumat dalam sekejap.

Jika Anda punya niat mendirikan vila atau bangunan senyaman dan sekokoh istana raja di kawasan timur laut Gunung Gede-Pangrango, urungkanlah hasrat tersebut. Bukan apa-apa, kawasan tersebut berisiko sangat tinggi jika suatu kelak gunung tersebut meletus. Awan panas atau sering disebut wedhus gembel siap melumat dan menerjangnya.

Disebut wedhus (domba) gembel (berbulu lebat) karena awan panas tersebut bagaikan kawanan domba yang menuruni lereng dari puncak gunung. Kita tentu masih ingat bagaimana keperkasaan awan panas dari Gunung Merapi melumat seluruh kawasan yang dilaluinya. Bahkan, Mbah Marijan, juru kunci Gunung Merapi yang melegenda, pun ikut menjadi korban.

Tubuhnya hangus terbakar. Semua makhluk hidup, baik binatang, tumbuhan, maupun manusia, tidak akan sanggup bertahan jika terpapar suhu udara menyengat (mencapai ratusan derajat Celsius) yang dikeluarkan oleh awan panas tersebut. Fenomena inilah yang harus diwaspadai oleh masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Gede-Pangrango.

Endapan Awan Panas Menurut Akhmad Zaennudin, penyelidik Bumi Madya di Badan Geologi, tanah di kawasan yang kini disesaki vila mewah dan rumah-rumah penduduk itu dulunya merupakan endapan awan panas hasil letusan Gunung Gede. Seabad silam, gunung ini sangat aktif dan kerap meletus.

"Para pemilik vila tidak menyadari bahwa kawasan tersebut rawan dari bahaya awan panas bila gunung api tersebut meletus," kata Akhmad seperti dikutip dalam buku Hidup di Atas Tiga Lempeng, Gunung Api dan Bencana Geologi. Ia menjelaskan material endapan awan panas itu berupa abu, pasir halus, dan bongkahan batuan.

Dalam kurun waktu yang lama, endapan itu lalu melapuk dan menghasilkan lapisan tanah yang sangat subur. Itulah kenapa tanah-tanah di sekitar gunung berapi secara alami memiliki tingkat kesuburan tinggi. Berdasarkan kajian, kawasan Kebun Raya Cibodas, Istana Presiden Cipanas, dan banyak vila mewah sering terlanda awan panas.

Bahkan sebaran awan panas tersebut ada yang mencapai Taman Bunga Nusantara, berjarak 15 km dari kawah Gunung Gede. Jauh-dekatnya kawasan yang terpapar awan panas sangat bergantung pada tingkat letusan gunung api. Jika letusannya ringan, awan panas menjalar dalam jangkauan sekitar 5 km. Namun, bila letusannya sangat kuat, kawasan yang terpapar awan panas bisa sejauh 15 km.

Riset membuktikan endapan awan panas tersebut terjadi dalam kurun waktu yang berbeda, sesuai dengan periode meletusnya gunung tersebut. Pertanyaannya adalah mengapa awan panas itu mengarah ke sisi timur laut Gunung Gede? Akhmad menjelaskan saat ini kawah Gunung Gede terbuka ke arah utara.

Jika terjadi letusan yang menghasilkan lava dan awan panas berskala besar, pertama kali aliran awan panas dan lava tersebut mengalir ke utara. "Namun, karena terhalang oleh Gunung Pangrango dan gunung api yang lebih tua (kompleks Megamendung), alirannya akan berbelok ke arah timur laut menyusuri lembah-lembah Ci Kundul, Ci Macan, dan Ci Wetan," ungkap Akhmad.

Melihat sebaran awan panas yang pernah terjadi di masa lampau, peristiwa serupa bisa terjadi di kemudian hari. Dan jika itu terjadi, bersiaplah menerima risikonya. Akhmad menerangkan ketika Gunung Gede meletus pada kurun waktu 1.290 sampai 850 tahun silam, awan panas itu menerjang kawasan di sisi timur laut.

Hutan belantara dengan pohon-pohon besar berdiameter hingga 2 meter luluh lantak disapu awan panas. "Potongan batang pohonnya berserakan membentuk tumpukan arang kayu. Betapa panas dan dahsyatnya kekuatan awan panas pada saat itu yang dapat memotong sekaligus mengarangkan pohon segar berdiameter 2 meter," ungkap dia.

Menurut geolog Belanda, RW van Bemmelen, tahun 1747 adalah letusan pertama Gunung Gede yang berhasil dicatat orang-orang Belanda yang menguasai kebun teh. Ketika itu, letusannya berskala besar. Sejak saat itulah, letusan Gunung Gede terus terjadi dalam peroide waktu tertentu, baik berskala kecil, sedang, maupun besar.

Akankah Meletus?

Gunung Gede meletus terakhir kali pada tahun 1957. Letusan berskala sedang itu memuntahkan material vulanik ke udara dan membentuk tiang asap setinggi 3.000 meter dari bibir kawah bawah. Akhmad mencatat, sejak letusan itu, Gunung Gede beristirahat panjang. Meski demikian, aktivitas kegempaannya dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini meningkat.

Tercatat gempa vulkanik beberapa kali terjadi, yakni pada tahun 1990, 1991, 1992, 1997, 2000, 2006, 2007, dan 2010. "Pada akhir 2010, intensitas gempa paling tinggi dan cenderung meningkat. Apakah tanda- tanda tersebut merupakan proses akan terjadi letusan?" ujar dia.

Inilah yang menjadi misteri. Seringnya gempa, baik vulkanik maupun tektonik, telah mengindikasikan adanya akumulasi gas dan tambahan magma baru dari bawah permukaan. Namun sejauh ini, penutup atau penyumbat lava masih sangat kuat sehingga belum dapat didobrak oleh magma tadi.

Sejarah mencatat, letusan magmatik yang cukup besar dapat terjadi setelah gunung api beristirahat 71 tahun. Jadi, kalau sekarang masa rehat itu telah berlangsung 55 tahun, tak ada salahnya kalau sejak dini kita waspada, terutama bagi masyarakat yang berada pada radius 15 km di sisi timur laut Gunung Gede.

Upaya yang paling aman, mudah, dan murah adalah tidak membangun vila mewah di kawasan rawan awan panas. Lebih ideal lagi, hijaukan kembali lahan-lahan kosong dengan vegetasi. Cara ini dapat mengurangi dampak bencana awan panas yang bakal terjadi. Mari kita jaga hutan di kawasan Gunung Gede-Pangrango yang masih utuh agar tetap tumbuh.

Jangan ada lagi perambahan hutan untuk keperluan permukiman, pertanian, atau perkebunan. Dari hutan inilah air jernih mengalir dan mengairi tanaman sayur dan buah-buahan yang dibudidayakan petani. Diselimuti udara sejuk, segar, dan bersih, kawasan Gunung Gede-Pangrango akan tetap menjadi tujuan wisata bagi siapa pun.

Apalagi lokasinya sangat strategis, berdekatan dengan Ibu Kota Jakarta. Lagi pula, kawasan ini juga dilalui jalan raya yang menghubungkan Jakarta, Bogor, Cianjur, dan Bandung. Jadi, selagi Gunung Gede masih beristirahat tenang, nikmati saja keelokan dan keasrian alamnya. Memang di balik bencana, selalu ada berkah. b siswo

Keelokan Gunung Gede-Pangrango

Di sepanjang jalur padat kendaraan itulah kita dapat memilih aneka tamasya yang mengasyikkan dan menyenangkan.

Di hari libur, jalur Puncak yang menghubungkan Bogor dan Cianjur selalu padat merayap. Para penikmat alam, baik dari Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Bandung, maupun kota-kota lainnya, tak pernah sepi meskipun harus rela terjebak kemacetan berjam-jam lamanya di jalur ini.

Perjuangan itu tak seberapa jika dibandingkan dengan kepuasan yang didapat. Di sepanjang jalur padat kendaraan itulah kita dapat memilih aneka tamasya yang mengasyikkan dan menyenangkan. Kalau Anda ingin penasaran melihat Danau Talagawarna, silakan melaju ke kaki utara Gunung Gede- Pangrango, tepatnya di Kompleks Pegunungan Megamendung.

Airnya jernih dan segar. Sekali muka dibilas air tersebut, niscaya pikiran dan tubuh terasa fresh dan bugar kembali. Di situ juga dihadirkan kebun teh yang menghampar luas bagaikan permadani raksasa. Sejauh mata memandang, hamparan permadani itu mengikuti lekukan topografi yang memang bergelombang naik-turun.

Tebing-tebing bukit berselimutkan hutan hujan tropis yang masih perawan. Kicauan burung dan atraksi satwa liar kian menambah keharmonisan di lingkungan danau tersebut. Itulah mengapa istana dan vilavila mewah bertebaran di sana. Tak terkecuali Presiden Pertama RI Soekarno, menjadikan bangunan peninggalan kolonial Belanda (abad ke-18) sebagai Istana Presiden.

Dulu, istana ini dikelilingi hutan hujan tropis yang indah memikat sehingga sangat ideal untuk lokasi peristirahatan presiden. Kini, dari jalan raya tersebut kita tak dapat lagi melihat hutan belantara. Kawasan itu telah berganti fungsi. Ia dihuni aneka bangunan vila, rumah, toko, hotel, dan lain-lain. Mereka tak sadar, bencana awan panas (wedhus gembel) dari kawah Gunung Gede itu terus mengintainya. (b siswo)

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
____________________________________________________________________________
Facebook:http://www.facebook.com/group.php?gid=48445356623
Multiply: http://IndonesiaGeographic.multiply.com
Multiply: http://GeographicIndonesia.multiply.com
____________________________________________________________________________
Hapus bagian yang tidak perlu untuk menghemat bandwidth. Sisakan 1 atau 2 thread agar tidak membingungkan yang lain.
Apabila topik pembicaraan berubah, usahakan Subject juga diubah sesuai topik
----------------------------------------------------------------------------
.

__,_._,___

No comments: